Hambalang, Asing, dan Demo
Tubaba.prorakyat.id
Mari kita lanjutkan tragedi nasional. Situasi di mana rakyat memperlihatkan kekuatan sesungguhnya. Rakyat mulai mengambil mandatnya satu per satu. Mari kita kupas situasi politik ini sambil seruput kopi tanpa gula lagi.
Prabowo Subianto hanya sekali muncul pidato secara resmi ke publik. Ia berdiri gagah di depan kamera, menyuruh rakyat tenang. Seolah-olah satu kalimat beliau bisa lebih mujarab dari doa hujan. Setelah itu, hening. Istana sepi bagai rumah kontrakan habis Lebaran. Publik bingung, “Mana Presiden kita?” Ternyata ketemu jawabannya, bukan di Istana, melainkan di Hambalang!
Lho, Hambalang? Itu kan jauh, naik ke bukit, sinyal sering hilang, tukang bakso pun enggan lewat. Mengapa harus di sana? Konspirasi pun muncul. Ada yang bilang istana cuma jadi pajangan. Sementara ruang kontrol negara dipindah ke markas pribadi. Hambalang jadi semacam “Batcave”, cuma bedanya bukan Batman, tapi mantan Danjen Kopassus yang sekarang jadi RI-1.
Sementara itu, Hendropriyono, jenderal intel yang sudah seperti mesin fotokopi isu, lagi-lagi mengucapkan mantra sakti. “Ada asing bermain!”. Kalimat ini sudah seperti soundtrack politik Indonesia. Kalau ekonomi jeblok, “asing bermain.” Kalau DPR tidur pas sidang, “asing bermain.” Kalau harga cabe naik, jangan-jangan juga asing ikut nimbrung. Kita jadi curiga, asing ini siapa sih? Makhluk gaib? Hantu ekonomi? Atau cuma cara halus bilang, “jangan salahkan kami, salahkan tetangga!”
Di jalanan, rakyat nggak lagi peduli teori. Mereka menjarah rumah anggota Dewan. Kenapa? Karena para wakil rakyat itu lebih sering bikin statement yang menusuk ulu hati dari bikin undang-undang yang bikin kenyang. Rumah dewan jadi sasaran bukan karena rakyat lapar barang mewah, tapi karena simbol. Kayak sinetron, ini semacam adegan “karma instant edition”. Bayangkan, wak! Anggota Dewan bilang rakyat tolol sedunia, eh rumahnya malah jadi “open house” tanpa undangan.
Teriakan massa makin jelas. “Sahkan RUU Perampasan Aset!”. Ini bukan sekadar RUU, tapi dianggap jurus pamungkas rakyat untuk membalikkan nasib. Kalau koruptor bisa dirampas asetnya, mungkin rakyat bisa kembali punya harapan. Minimal, uang haram itu bisa balik jadi subsidi beras, bukan jadi koleksi mobil sport pejabat.
Sayangnya, bentrokan dengan aparat makin sering. Korban jiwa sudah ada, sebelas orang tercatat tewas. Darah sudah menodai jalanan. Bahkan di beberapa kota, gedung DPRD dibakar. Suasananya kayak film action, bedanya ini realitas, dan yang jadi stuntman adalah rakyat sendiri.
Lalu, ekonomi? Jangan ditanya. Pertumbuhan kuartal II 2025 cuma 4,7%, alias lemah gemulai. Utang negara sudah menembus Rp8.300 triliun, kayak cicilan KPR 1000 tahun. Pajak? Rakyat diperas sampai ke tetes terakhir, sementara pejabat pesta pora. Ironinya, rakyat disuruh efisien, sementara pejabat kalau rapat keluar negeri bawa rombongan kayak tur travel. Mana bawa bini lagi.
So, mau ke mana demo ini? Ada tiga kemungkinan:
1. Represi penuh. Pemerintah main “gas terus”, demo dipukul, aparat dikerahkan, rakyat disuruh diam. Hasilnya? Bisa jadi “Indonesia jadi taman safari gas air mata.”
2. Kompromi. Pemerintah pura-pura mendengar, kasih janji manis, “tenang, RUU Perampasan Aset segera dibahas.” Lalu rakyat disuruh pulang. Tapi kita tahu ending-nya sering “PHP edition.”
3. Reformasi jilid II. Nah ini yang paling dramatis. Kalau rakyat sudah ogah diatur, demo meluas, elit panik, dan roda sejarah dipaksa berputar ulang. Siapa tahu, 1998 jadi season 1, 2025 season 2. Bedanya, sekarang ada Twitter (eh, X) dan TikTok buat dokumentasi gratis.
Konspirasi terbesar mungkin bukan “asing” yang ikut campur, melainkan siapa yang sebenarnya lagi bagi-bagi kue di balik layar. Hambalang jadi simbol benteng kekuasaan, Senayan jadi simbol kerakusan, dan jalanan jadi panggung rakyat.
Kalau kata orang bijak, “kalau rakyat sudah lapar, demokrasi bisa berubah jadi demo crazy.” (Pr04)
Penulis;
Rosadi Jamani
(Ketua Satupena Kalbar)
Posting Komentar